Khutbah Jumat disampaikan oleh Drs. Safri Hasan. Dalam ceramahnya, ia menekankan bahwa bulan Muharram adalah awal tahun yang penuh berkah, di mana umat Islam diajak melakukan evaluasi diri, memperbaiki amal ibadah, dan bertekad berhijrah dari segala hal yang buruk menuju yang lebih baik.
“Muharram mengajarkan kita tentang semangat perubahan, seperti peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW. Di tahun baru 1448 H ini, mari kita jadikan momen ini untuk memperbaiki hubungan dengan Allah, sesama manusia, dan lingkungan. Ketahanan umat dimulai dari perbaikan diri masing-masing,” ujar Drs. Safri di hadapan ratusan jamaah yang hadir.
Bertindak sebagai khatib adalah Dr. Samlan Hi. Ahmad, M.Pd. Ia memaparkan makna sejarah peristiwa Asyura yang jatuh pada tanggal 10 Muharram, sebagai pelajaran tentang kesetiaan, kebenaran, kesabaran, dan ketabahan hati dalam membela nilai-nilai luhur agama.
“Sejarah Asyura mengajarkan kita untuk tetap teguh pada kebenaran meski diuji berat. Di era sekarang, tantangan kita berbeda namun tetap butuh keteguhan iman. Muharram adalah pengingat agar kita tidak mudah goyah, tetap bersatu, dan terus berbuat kebaikan demi kemajuan bersama,” jelasnya. Dr. Samlan juga mengajak jamaah memperbanyak puasa sunnah dan doa di bulan mulia ini sebagai bentuk syukur dan permohonan keberkahan.
Di Ibu Kota Provinsi, khutbah disampaikan oleh Drs. Basyir Ishak, M.Pd (Ketua Komisi Dakwah MUI Maluku Utara). Ia menyoroti hubungan erat antara semangat Muharram dengan pembangunan karakter masyarakat Maluku Utara yang religius, damai, dan maju.
“Tahun baru Islam bukan sekadar perhitungan waktu, tapi panggilan untuk kemajuan. Mari kita jadikan semangat hijrah sebagai kekuatan untuk memajukan daerah kita, menjaga kerukunan, dan meningkatkan kualitas hidup. Umat yang kuat adalah umat yang selalu belajar dari masa lalu, beramal di masa kini, dan berharap kebaikan di masa depan,” tegas Drs. Basyir.
![]()







